Merdeka?ini kata mereka selamat ulang tahun, Indonesia

Minggu, 17 Agustus 2008 | 08:24 WIB

Usia 63 tahun sudah diinjak negeri ini, dengan segala dinamikanya. Tahun 1945, kemerdekaan dipekikkan, sebagai pertanda terlepas dari cengkeraman penjajah. Kini, di tahun 2008 apa arti kemerdekaan?

Kalau Amien Rais, dalam iklannya mengatakan Indonesia baru bisa bilang “merdeka” dan belum bisa menikmatinya. Bagi Amien, merdeka bukan berarti membiarkan jutaan bayi kurang gizi. Itu merdeka versi Amien.

Bagaimana dengan masyarakat lainnya? Ternyata, dari pernyataan sejumlah masyarakat yang ditemui Kompas.com, ada beragam pemaknaan yang mereka utarakan. Kesulitan hidup dan ketidakadilan yang dirasakan, menjadi dasar mereka untuk mengartikan “merdeka”. Inilah beberapa ungkapan itu….

Indra, seorang tuna rungu agak bingung saat ditanya apa arti kemerdekaan baginya. Akhirnya, setelah berpikir sekian menit, ia mengatakan, “Merdeka, artinya ada kebebasan berseni dan tidak ada diskriminasi. Ada fasilitas-fasilitas yang memudahkan orang cacat,” ujar Indra, yang ditemui usai Pagelaran Khidmat Kilas Proklamasi di Jakarta, Sabtu (16/8) malam.

Pernyataan yang sama juga datang dari Eddi. Penyandang tuna netra ini mengartikan kemerdekaan baginya adalah adanya pemerataan bagi seluruh warga negara. Akses bagi orang normal, seharusnya juga bisa dinikmati oleh orang-orang dengan keterbatasan fisik seperti mereka.

“Agar kami, diberi kebebasan dan kesempatan juga untuk melakukan hal-hal yang positif, meskipun kami cacat. Misalnya, dalam hal lapangan pekerjaan,” kata Eddi, yang baru mengalami stroke namun tetap bersemangat tampil menarikan tarian daerah di berbagai acara.

Penyandang cacat lainnya, Marcello Wisnu Arya Teja beda lagi. Marcello, yang berusia 23 tahun ini mengartikan merdeka dengan cara pandang dari akses dunia pendidikan. Siswa kelas 3 SMA Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) ini mengatakan, susah mengatakan bahwa Indonesia sudah merdeka sepenuhnya.

Mengapa? “Merdeka kan artinya semua merasa bebas dan aman melakukan sesuatu. Itu belum saya rasakan. Lihat saja, tidak ada bis khusus orang cacat seperti saya (Marcello harus beraktivitas dengan kursi roda). Masalah pendidikan juga begitu, hanya sedikit universitas yang bisa menerima kami. Artinya, saya pribadi belum merasa merdeka,” katanya.

Ungkapan tentang kemerdekaan dari para penyandang cacat itu, tentunya didasari oleh rasa terpinggirkan dan ketidakadilan yang mereka rasakan.

Nah, ibu rumah tangga punya pemaknaan yang berbeda lagi. Maklumlah, bagi ibu-ibu yang terpenting adalah mereka tak merasa pusing mengatur keuangan keluarga dan bisa mencukupi kebutuhan dengan maksimal.

Salah satu ibu rumah tangga yang ditemui Kompas.com adalah Yuliati. Warga Petamburan, Jakarta Pusat ini mengatakan, merdeka seharusnya tidak merasakan kesulitan hidup. “Lah, ini zaman merdeka enggak ada bedanya dari zaman perang kali ya. Apa-apa susah, enggak ada duit, haha…Habis, semuanya mahal, saya pusing sendiri kalo belanja setiap hari. Harusnya, merdeka itukan sejahtera, rakyatnya bisa beli beras, minyak, semuanya murah. Udah gitu aja,” ujar ibu 3 anak ini.

Pernyataan Indra, Eddi, Marcello dan Yuliati, mungkin tak bisa digeneralisasi suara seluruh rakyat Indonesia. Tapi setidaknya, mereka juga bagian dari rakyat yang punya pemaknaan sendiri ketika tanggal 17 Agustus tiba. Pemaknaan merdeka, boleh berbeda. Benang merah dari semuanya, mereka merasa masih harus berjuang mendapatkan kemerdekaannya. Perjuangan yang diharapkan berujung pada pencapaian rasa merdeka seutuhnya, bagi semua. Lalu, apa arti merdeka untuk Anda?

Inggried Dwi Wedhaswary
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Iklan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!